Menengok Kampung Penatu Banjarmasin, Pusat Buku, Penatu, dan Percetakan Ngetop di Zamannya | Berita Banjarmasin | Situs Berita Data & Referensi Warga Banjarmasin

Jumat, 01 November 2019

Menengok Kampung Penatu Banjarmasin, Pusat Buku, Penatu, dan Percetakan Ngetop di Zamannya

Wajah sejarah Kalsel, bisa dilihat dari berbagai aspek. Contohnya seperti kawasan legendaris di Kota Banjarmasin ini. Kampung Penatu, begitulah orang-orang menyebutnya, yang terletak di Jalan Pangeran Samudera Banjarmasin.

BANJARMASIN, laporan jurnalis: Maya

Kawasan ini sebenarnya adalah sebuah gang. Jika anda bertanya kepada warga asli Banjarmasin, tanyakan saja di mana lokasi Toko Merdeka, maka Kampung Penatu dekat dengan toko buku yang juga tak kalah legendaris itu. Kampung Penatu seolah jadi wahana para wirausaha. Mereka yang menghuni gang tersebut turun temurun mengelola beragam usaha.

Kampung ini terkenal sebagai pusat toko buku, surat kabar dan percetakan, yang pernah ngetop di zamannya. Dulunya pengunjung dari berbagai daerah di Kalimantan sampai mancanegara berdatangan ramai bertandang ke tempat ini. Selain buku,  Sesuai namanya 'Penatu' tempat ini dulunya juga terkenal dengan salah satu jasa pencucian pakaian sampai dengan penyetrikaan, yang di zaman dahulu tidak sebanyak sekarang. Selain itu juga tempat percetakannya yang terkenal.
Tak kalah menarik, di sana terdapat sebuah losmen yang dibangun pada tahun 1968 yang terdiri dari dua lantai dengan 21 kamar tidur yang peruntukannya untuk para pendatang. Losmen Bang Amat, yang diambil dari nama tokohnya ini merupakan yang tertua ada di Kalsel.

Sepeninggal beliau, losmen ini sekarang dihuni oleh generasi ke- 4 dari keturunannya. Sudah 17 tahun yang lalu tempat ini tidak beroperasional, hal ini dikarenakan persaingan tempat dan lahan yang lebih dari segi infrastruktur modern.

Menelisik lebih jauh, jurnalis BeritaBanjarmasin.com menemui salah satu warga disana, Fauzi. Ia merupakan generasi ke-4 pemilik Losmen Bang Amat. Dirinya memaparkan, sesepuhnya merupakan seniman yang memiliki talenta di berbagai bidang, dan memiliki sanggar seperti tari. Selain itu drumband, pencak silat dan teater yang diajarkan untuk masyarakat regional.
Berdasarkan ceritanya, kawasan ini pernah dulunya dilelang oleh pihak swasta untuk dijadikan sebuah perusahaan retail. Karena bukan termasuk wilayah hijau, warga di sana mematok harga jual untuk masing-masing tempat tinggalnya. Ketidakcocokan harga menjadi kendala, berbeda dengan warga yang memiliki sertifikat, merasa harga jual lebih tinggi dibandingkan yang lainnya seperti yang diinginkan pihak swasta, harga sama rata. 

Losmen ini, juga pernah diinginkan investor lain untuk bangunannya direnovasi kembali, namun ketidakluasan lahan menjadi kendala selanjutnya, untuk lahan parkir. 

Berdasarkan pantauan, walaupun tidak seramai dulu akibat persaingan pasar yang pesat,warga di sana tetap menjalankan aktivitas wirausaha. (maya/sip)

Posting Komentar

favourite category

...
test section describtion

Whatsapp Button works on Mobile Device only