Mencari Kebudayaan Gotong Royong yang Hilang | Berita Banjarmasin | Berita Kalimantan Selatan | Media Online Banjarmasin

Selasa, 26 Juni 2018

Mencari Kebudayaan Gotong Royong yang Hilang

Ilustrasi Budaya Gotong Royong data diolah oleh Zulfian/beritabanjarmasin.com
Mencari Kebudayaan Gotong Royong yang Hilang

BBCOM, Reja Fahlevi*)

Bangsa Indonesia tekenal sebagai bangsa yang memiliki budaya adiluhung. Budaya di masyarakat Indonesia yang sangat layak dibanggakan pada masyarakat dunia adalah budaya gotong royong, semangat yang menjadi warisan sangat berharga bagi generasi penerus bangsa, sebagai salah satu sarana pemersatu bangsa.

Sepeti yang di katakan Bung Karno ketika mengutarakan pandanganya sebagai penggali Pancasila, pada 1-Juni-1945 yang diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila, Pancasila kalau diperas akan menjadi Trisila dan kalau terus diperas lagi menjadi Ekasila yakni Gotong royong. Dalam pidato berapi-api yang mendapat tepuk tangan dari seluruh anggota BPUPKI, Bung Karno menekankan kata "Gotong Royong" berkali-kali. Dikatakan, sifat itu merupakan spirit dasar dari kebangsaan Indonesia. Bahkan gotong royong itu merupakan nilai-nilai  asli yang telah membentuk Indonesia menjadi sebuah bangsa dan masyarakat. 

Namun, saat ini semangat gotong royong mulai hilang, luntur bersama perkembangan zaman. Memang tidak sepenuhnya hilang, namun secara perlahan kebiasaan gotong royong mulai surut. Meski dibeberapa daerah masih bisa dijumpai masyarakat bergotong royong, tapi semangatnya mungkin tidak seperti dahulu. Munculnya sifat individualisme dan liberalisme sehingga orang mulai sibuk dengan kepentingan mereka masing-masing.

Sikap budaya gotong royong yang semula menjadi sikap hidup bangsa telah mengalami banyak gempuran yang terutama bersumber pada budaya Barat yang agresif dan dinamis. Barat semakin berhasil mendominasi dunia dan umat manusia. Salah satu korban penetrasi Barat adalah budaya Gotong royong Indonesia.

Jangan heran, jika sekarang maraknya bermunculan sikap maupun gerakan intoleransi, gerakan radikalisme serta penggunaan kekerasaan untuk memaksakan kehendak dan mencapai tujuan, serta egosime perseorangan dan kelompok yang berlebihan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, Salah satu faktor penyebanya adalah kurang dihayatinya semangat gotong royong  sebagai salah satu sarana pemersatu bangsa oleh masyarkat Indonesia.

Hakikat Pancasila adalah hidup dalam kebersamaan dan kerukunan. Kita sebagai masyarakat Indonesia beda satu sama lain, tetapi pada saat yang sama kita satu karena hidup dalam kebersamaan. Maka tumbuhlah kebangsaan Indonesia secara subur dalam taman sari kehidupan umat manusia. Masyarakat gotong royong hidup secara harmonis dengan dilandasi falsafah perbedaan dalam kesatuan, kesatuan dalam perbedaan yaitu kebersamaan dan kekeluargan yang terkristalisasi dalam sebuah semboyan sakti yakni “Bhinneka Tunggal Ika”.

Etika ketimuran yang ditandai dengan gotong royong sebagai ciri khas dari masyarakat komunal, telah tergantikan peranannya oleh individualisme. Terlalu banyak contoh soal terjadinya perubahan atau bahkan perubahan orientasi Indonesia sebagai sebuah bangsa. Dimana sistim nilai dasar telah tergantikan nilai baru yang merupakan dampak dari arus modernisasi. Tak ada lagi perasaan kebersamaan sebagai warga sosial.

Berdasarkan kenyataan itu, sebaiknya bangsa Indonesia kembali kepada sikap hidup yang mengutamakan harmoni dan toleransi, ini berarti sikap hidup gotong royong harus ditumbuhkan kembali dalam masyarakat Indonesia.

Masyarakat Indonesia yang sekarang banyak meninggalkan sifat-sifat masyarakat gotong royong harus kembali diajak dan dimotivasi untuk hidup dengan kebersamaan dan kekeluargaan dalam bingkai kebhinnekaan. Menjadi manusia yang menjunjung tinggi harmoni dalam kehidupan. Setiap orang memang beda satu sama lain, tetapi semua sadar bahwa meraka bagian yang tak terpisahkan dalam keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Oleh karena itu mereka sadar bahwa mereka hidup dalam kebersamaan dan kesatuan. jika semangat gotong royong dihidupkan kembali maka akan ada hubungan terwujudnya toleransi yang harmonis ditunjukan dengan hubungan antara agama yang harmonis, kepentingan daerah dan etnis akan dapat diperhatikan tanpa mengabaikan dan mengorbankan kepentingan negara dan bangsa secara keseluruhan.

Sudah saatnya kita kembali merefleksikan peribahasa klasik "bersatu kita teguh bercerai kita runtuh". Semua masyarkat Indonesia harus sadar kembali bahwa tidak mungkin makhluk hidup meninggalkan asalnya kalau mau ketentraman dan kesejahteraan, oleh karena itu kita harus kembali nilai filosofis bangsa yakni Gotong Royong. 

Jangan sampai apa yang dikatakan oleh para tetuha (orang tua-red) kita dahulu bahwa  kegotong royongan diwujudkan dengan masyarakat bekerja bersama demi kemashalatan bersama , kini telah berubah menjadi masyarakat baru mau bekerja bila ada upahnya (pamrih-red) benar-benar menjadi karakter bangsa kita.(*)

*)Akademisi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan & Peneliti PARANG ULM.

Posting Komentar

favourite category

...
test section describtion

Whatsapp Button works on Mobile Device only