Nasrullah: Adab Murid Zaman Now Kepada Guru Jadi Evaluasi Hardiknas | Berita Banjarmasin | Situs Berita Data & Referensi Warga Banjarmasin

Kamis, 02 Mei 2019

Nasrullah: Adab Murid Zaman Now Kepada Guru Jadi Evaluasi Hardiknas

Pengamat Pendidikan Kalsel, Nasrullah (foto: ulm.ac.id)
BERITABANJARMASIN.COM - Di Indonesia, 2 Mei selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Penetapan tanggal tersebut diambil 
berdasarkan tanggal lahir dari tokoh yang sangat berperan besar dalam dunia pendidikan kita, yakni Ki Hajar Dewantara.

Tanggal tersebut sepatutnya tak hanya diperingati sebagai hari lahir beliau, namun lebih dalam daripada itu. Menarik menelisik lebih jauh tentang keadaan pendidikan di Indonesia saat ini, dimana hari ini bertepatan dengan Hari Pendidikan yang jatuh pada Kamis (2/4/2019) ini.
 
Nasrullah selaku pengamat pendidikan di Kalsel mengungkapkan dari segi kacamata seorang pendidik, dirinya melihat dunia pendidikan sekarang tercoreng oleh adab perilaku siswa atau mahasiswa kepada guru atau dosen. Guru di era sekarang sedang dihadapkan pada tafsir heroik dan maskulin sebagai refresentasi siswa SMA sebagaimana film Dilan.

Guru dituntut berperan ekstra karena berhadapan dengan kondisi siswa yang cenderung resisten. Terbukti ada beberapa video yang viral menunjukkan sikap tidak hormat siswa terhadap guru bahkan di lingkungan sekolah seperti dalam kelas.

Dosen Prodi Pendidikan Sosiologi Antropologi FKIP ULM ini berujar diperlukannya film edukatif yang bisa memperbaiki moral anak bangsa. "Diperlukan film edukatif seperti Laskar Pelangi, atau Film Iran berjudul Children of Heaven," ujarnya kepada BeritaBanjarmasin.com, Kamis (2/4/2019).
Guru atau Dosen saat ini berhadapan dengan generasi milineal yang akses informasi (maha)siswa didapatkan dari smartphone untuk mengakses internet. Kualitas resources yang diakses melalui internet tersebut belum tentu memiliki kualitas yang menunjang studi. Sehingga guru dan dosen perlu melakukan pengarahan.
Saat ini, generasi milenial cenderung lebih menyenangi citra visual seperti tayangan video pendek, gambar dengan kamuflase citra diri, serta infografis. Semuanya itu hanya menyajikan aspek estetis dan praktis yang sekali melihat semua menjadi jelas. "Artinya kemampuan berfikir melihat sebuah fenomena tidak digunakan," paparnya.

Di sisi lain, kalangan siswa atau mahasiswa mesti menjawab tantangan bahwa sebagai generasi milenial, mereka mampu menunjukkan minat dan semangat besar di dunia pendidikan. Kalangan generasi milineal ini harus melahirkan icon atau tokoh di kalangan mereka sebagai bukti kemauan dan kemampuan berkiprah di dunia pendidikan.

Alumni Magister Antropologi UGM ini berujar kebijakan pemerintah tentang pendidikan sering berubah-ubah menyebabkan kesulitan penyelenggara atau pengelola sekolah. "Misalnya penerapan kurikulum yang sulit diaplikasikan, penerapan full day school dan kesulitan sekolah di daerah atau pinggiran kota," ujarnya.

Setali tiga uang, kondisi ini juga berlaku di kampus. Misalnya dalam dua tahun kebijakan penamaan prodi berubah hingga tiga kali yang sangat membingungkan. "Padahal mengikuti kebijakan pemerintah adalah keniscayaan tetapi kebijakan yang berubah-ubah sangat menyulitkan," tutupnya. (puji/sip)

Posting Komentar

favourite category

...
test section describtion

Whatsapp Button works on Mobile Device only