Ibnu Sina's Magic, Deret "Sulap Inovasi" Pemkot Banjarmasin | Berita Banjarmasin | Situs Berita Warga Banjarmasin

Selasa, 13 November 2018

Ibnu Sina's Magic, Deret "Sulap Inovasi" Pemkot Banjarmasin

“Jika ada seekor unta mati karena disia-siakan tidak terurus. Aku takut Allah memintai pertangungjawaban kepadaku karena hal itu."

Perkataan Umar ibn al Khatthab, saat menjadi pemimpin kaum muslimin.



Kata-kata pembuka ulasan ini memang berasal dari seorang pemimpin yang diakui kapasitasnya oleh dunia. Bukan hanya diakui oleh umat Muslim, namun juga para pengamat kepemimpinan, hingga era gelombang ketiga dunia saat ini. Siapa yang berani memimpin, berarti rela berkorban dan melayani. Begitulah gambaran seorang leader secara ideal.


Kota Banjarmasin, secara umum memiliki lebih dari 700.000 penduduk. Dengan latar belakang yang beraneka ragam. Meski berpenduduk padat, jumlah luasan wilayah kota dengan usia 492 tahun ini tidak lah seluas daerah lain di Bumi Antasari. Mengurus ratusan ribu penduduk dengan menjunjung adagium "Ubi Societas Ibi Justicia” --di mana ada masyarakat dan kehidupan di sana ada keadilan-- jelas bukan perkara mudah.


Jika kita menurut dengan pemikiran ala Aliran Malthusian yang dipelopori oleh Thomas Robert Malthus, jumlah penduduk yang "over" ini dianggap sebagai ancaman. Pun begitu jika mengamini cara pikir kaum Neomalthusian. Pada tahun 1871 Ehrlich (Neomalthusian) sempat menulis dalam buku “The Population Bomb” dengan revisi “The Population Explotion” bahwa jumlah manusia di bumi ini sudah terlampau banyak. Dipersulit lagi dengan bahan makanan yang tidak unlimited. Bahkan lingkungan menjadi rusak dikarenakan populasi manusia kian bertambah.


Namun kita tak membahas hal itu. Ini hanya sekadar gambaran, bagaimana tak mudahnya mengelola penduduk yang padat dengan luas wilayah yang sempit. Itulah gambaran Banjarmasin. Kemudian melahirkan semacam aturan "tak terlihat" bahwa siapa yang ingin memimpin Banjarmasin, harus siap dengan kerumitan dan berpikir keras dalam tempo yang cepat dan taktis.


Melihat wajah Banjarmasin hari ini, setidaknya kita perlu mengakui, perubahan positif telah terjadi. Arah Kota Banjarmasin yang sekian lama tampak lesu, kini mulai bergairah. Kota tua yang tampak beradministrasi lambat, tiba-tiba menjelma lebih cepat dan berbasis teknologi. Kekumuhan pinggiran sungai yang nyaris menjadi momok tak tersentuh, kini perlahan "disulap" menjadi daerah cantik dengan perencanaan pembangunan terintegrasi.


Setidaknya, sejak dipimpin Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina, kini warga Banjarmasin semakin banyak pilihan tempat untuk bercengkrama bersama keluarga. Tercatat kawasan yang sebelumnya hanya kolong jembatan kotor, disulap menjadi ruang publik ramah anak. Lengkap dengan lantai rumput sintetis dan arena bermain. Alat fitnes gratis, angkutan pelajar gratis, hingga pembenahan kawasan kumuh di daerah Sungai Bilu misalnya, tak bisa tidak, harus kita akui: ada perubahan drastis.


Bicara soal inovasi penanggulangan sampah, tiba-tiba saja Banjarmasin menjadi rujukan nasional hingga internasional. Efek ini terasa, saat Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina berani mengeluarkan aturan larangan penggunaan kantong plastik.


Untuk kependudukan dan administrasi, warga Banjarmasin pun kini bisa berurusan dengan menggunakan gawainya masing-masing sambil menyeruput segelas kopi hangat dan kudapan. Aplikasi-aplikasi sudah siap membantu dan diintegrasikan dengan sistem administrasi di kelurahan hingga kecamatan.


Meskipun masih banyak pula persoalan yang harus dibenahi kepemimpinan Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina dan wakilnya Hermansyah, seperti soal drainase dan sebagainya. Namun kerja dan inovasi pemimpin Kota Baiman ini perlu diapresiasi dengan melihat "before and after" perubahan yang terjadi di Banjarmasin seperti: magic. (sip/sip)

infografis: Zulfian al Amin.  

favourite category

...
test section describtion

Whatsapp Button works on Mobile Device only

close
Banner iklan disini