Kisah Alda, Jeniper dan Gesang di Kafetaria FEB ULM, Bikin Baper Pengen Kaya Dia, Baca Deh | Berita Banjarmasin | Situs Berita Data & Referensi Warga Banjarmasin

Selasa, 05 November 2019

Kisah Alda, Jeniper dan Gesang di Kafetaria FEB ULM, Bikin Baper Pengen Kaya Dia, Baca Deh

BERITABANJARMASIN.COM - Selain golongan anak muda pemburu kuliner yang mendominasi, ternyata masih ada juga yang memilih menjadi penjual. Seperti tampak di Kafetaria milik FEB Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini. Mereka mengambil jalan sebagai pedagang, bukan hanya pembeli yang mengeluarkan uang.

Masuk ke dalam kafetaria ini, memang terasa sekali nuansa bangunan baru. Maklum saja, bangunan ini memang baru rampung dibangun, dengan desain yang lumayan kekinian, meski dengan corak warna yang cenderung mencolok: putih dan hijau.
Siang itu penulis menjumpai beberapa anak muda yang berjualan di kawasan ini. Kami menemui merek dagang unik seperti Kelapa Jeniper yang merupakan singkatan dari kelapa jeruk nipis peres. Ahay, ini sih lumayan eye cathcing. Mengundang calon pembeli melirik.

Kafetaria Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat ini ternyata baru tiga bulan beroperasi. Namun sudah ramai, diserbu para mahasiswa yang ingin mengisi perut di kala jeda kuliah, maupun sekadar ngerumpi bersama sobat-sobat satu kuliah.
Di tempat ini kami berjumpa dengan perempuan berjilbab. Dari gelagatnya, ia memang cukup cekatan melayani pembeli. Alda namanya.

Alda membuka stand minuman dengan brand Capcin Boedjang. Ia menjual aneka minuman seperti capuccino cincau, coklat, tiramisu, dan masih banyak lagi yang lain dengan harga Rp5 ribu saja per cupnya.

Alda bercerita, untuk bisa berjualan di kafetaria FEB ULM, ia harus melalui sistem lelang. Siapa saja yang bisa menawar harga sewa lebih tinggi akan mendapatkan tempat berjualan di kafetaria tersebut. "Bayarnya langsung enam bulan, dan per bulannya Rp800 ribu sudah termasuk listrik dan air sih," ucapnya kepada Beritabanjarmasin.com, Senin (4/11/2019).
Ada hal menarik, meski Alda sibuk mengelola usahanya, namun ia ternyata juga seorang mahasiswa di STIE Nasional. Keren juga sih, di saat mahasiswa lain sibuk cuma beli-beli dan kulineran, eh si Alda memilih jualan. 

Ia masuk kuliah dengan jadwal malam, sehingga ia memanfaatkan waktu luang di siang dengan berjualan, ia juga berjualan dengan modal hasil mengumpulkan uang sendiri.

"Modal sewa dan berjualan dari hasil ngumpulin uang sendiri, dan alhamdulillah rame karena lumayan banyak juga mahasiswa yang datang dari berbagai fakultas juga," tuturnya.

Omzet yang didapat Alda selama satu minggu mencapai Rp600 ribu. Lumayan juga sih, untuk menebalkan isi dompet, apalagi kalau bisa bantu orang lain dengan hasil keringat sendiri.

Sementara itu salah satu stand lainnya yang kami temui adalah es kelapa muda Jeniper (Jeruk nipis peras). Sang owner bernama Gesang. Ia mempekerjakan orang lain untuk menjaga usahanya. "Jadi aku sama temenku kan kerja di luar jadi ngga bisa jaga. Jadi kami membayar orang lain buat berjualan," ujarnya.

Kalau yang ini mantul (mantap betul) juga sih. Owner-nya kerja, eh usahanya tetap terjaga. Sama seperti Alda, untuk bisa mendapatkan tempat berjualan di kafetaria FEB ULM, Gesang harus melalui sistem lelang, hanya saja tempat yang ia miliki lebih kecil dibanding Alda. "Kami ini harga awalnya Rp500 ribu dan kita dapat diharga Rp690 ribu," bebernya.

Dengan modal lima juta rupiah, dan sudah berjualan dua bulan, per hari bisa menghabiskan 30 sampai 50 cup es kelapa Jeniper dengan harga per cup Rp6 ribu, namun jika cuaca panas per hari bisa mencapai 60 sampai 70 cup. Bisa dibayangkan kan berapa omzetnya. Bikin greget.

Ia bersyukur dengan adanya kafetaria FEB ULM, bisa menambah penghasilan. Gesang  sendiri merupakan alumni FEB Manajemen ULM. (fitri/sip)

Posting Komentar

favourite category

...
test section describtion

Whatsapp Button works on Mobile Device only