Latte Factor Juga Landa Warga Banjarmasin, Apa Itu? | Berita Banjarmasin | Situs Berita Data & Referensi Warga Banjarmasin

Jumat, 01 Februari 2019

Latte Factor Juga Landa Warga Banjarmasin, Apa Itu?

ilustrasi: financialmentor

BERITABANJARMASIN.COM - Manusia dalam kehidupannya terkadang tanpa sadar mengeluarkan uang tersebut untuk hal-hal kecil tak terduga yang dilakukan secara terus menerus  hingga akhirnya membuat pengeluaran membengkak. 

Kondisi ini akrab disebut dengan Latte Factor yang dicetuskan David Bach, penulis buku finansial. Disadari atau tidak latte factor ini seolah menjadi gaya hidup di masyarakat. Jika kita ambil contoh seperti ketidaksadaran latte factor biaya membeli air mineral kemasan, belanja cemilan, makan di restoran, tas, sepatu hingga pakaian baru.

Setiap individu memiliki latte factor yang berbeda satu dengan yang lainnya. Seperti yang dirasakan Lala, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini menuturkan kebiasaan pengeluaran yang tak disadari seperti dirinya yang suka membeli dan menyetok cemilan.

"Iya sih ya, pengeluaran itu secara tidak sadar saya lakukan. Biar sedikit kalau diakumulasi ternyata pengeluaran ternyata banyak," ujarnya kepada BeritaBanjarmasin.com, Jumat (1/2/2019).

Hal ini memantik pengamat ekonomi yang juga akademisi sebagai Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat, Prof Alim Bahri. Menurutnya, Latte factor sebenarnya merupakan pengeluaran yang dapat dihindari oleh masyarakat dengan melakukan perencanaan atau pengelolaan keuangan. "Ini bisa kita hindari asalkan memiliki perencanaan pemanfaatan dana atau anggaran yang kita miliki sesuai kebutuhan dan skala prioritas," paparnya.

Dikatakannya, perencanaan ini sangat penting untuk menjamin kebutuhan mendasar yang dipengaruhi oleh perkembangan gaya hidup yang sangat dinamis. "Kehidupan dan gaya hidup tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain akan tetapi keduanya tergantung dari pola manajemen hidup setiap orang," tuturnya.

Mantan Wakil Rektor I ULM ini menuturkan  permasalahan lain yang turut serta mendorong latte factor adalah stategi promosi para pelaku usaha untuk menyasar para konsumen dengan belanja tanpa sadar dan itu dianggap wajar.
"Itu sah-sah saja untuk mencapai tujuan bisnis, sekali lagi ini tergantung dari pola manajemen belanja berbasis kebutuhan yang menjadi prioritas," tandasnya. (puji/sip)

Posting Komentar

favourite category

...
test section describtion

Whatsapp Button works on Mobile Device only