Antara Perguruan Tinggi dan Harapan Tinggi Rakyat Kecil | Berita Banjarmasin | Situs Berita Data & Referensi Warga Banjarmasin

Kamis, 19 Juli 2018

Antara Perguruan Tinggi dan Harapan Tinggi Rakyat Kecil

Ilustrasi Fajery Majedi/beritabanjarmasin.com
Antara Perguruan Tinggi dan Harapan Tinggi Rakyat Kecil

BBCOM, Fajery Majedi)*

Sudahkah mengetahui bahwa data mengatakan 10ribu warung kelontong tutup setiap tahunnya? Mati perlahan oleh fenomena perubahan perilaku berbelanja ke retail modern? Atau seringkah melihat fenomena jatuh bangunnya pedagang-pedagang kecil yang menjual handuk, kosmetik kecil, snack di pasar-pasar yang konsumennya sudah berhijrah ke toko modern atau pun online? atau warung makan milik ibu tua yang tak bersekolah tinggi, yang konsumennya sekarang lebih senang ke tempat makan kekinian, atau cukup order dari rumah? Itulah fenomena Disruption yang dikatakan Prof. Rhenald Kasali, Founder Rumah Perubahan.

Disruption adalah menghadirkan masa depan ke masa kini, ia bisa saja dikaitkan pada teknologi. Ia mengubah perilaku berbelanja konsumen yang ingin mendapatkan segala sesuatu dalam proses berbelanja nya dengan lebih baik, lebih murah, lebih mudah diakses hingga sampai ditangan konsumen. Shifting telah terjadi.

Memprihatinkan?

Benar, memprihatinkan bagi pedagang kecil yang tidak memiliki pengetahuan lebih layaknya orang cerdas yang memahami pasar dan memiliki kompetensi kelas dunoa. Pedagang kecil yang bahkan tidak tamat SMP, gagap teknologi, bahkan masih kesusahan menggunakan facebook atau instagram sebagai media interaksi, makin hari makin tergerus ekonomi nya karena hanya mengandalkan apa yang mereka miliki. Perlu belajar? Perlu. tapi sekali lagi, mereka juga perlu dibantu oleh elemen-elemen yang mau berpihak pada mereka.

Elemen Perguruan Tinggi

Indonesia sebagai negara dengan Perguruan Tinggi yang berlimpah, katadata.co.id mengatakan ada 4.500 PT. Maka seyogyanya PT harus hadir sebagai solusi terhadap mereka yang tidak memiliki cukup daya dan upaya ini. Perguruan Tinggi yang didalamnya terdapat kaum intelektual yakni dosen dan mahasiswa, sepatutnya disetiap momen dan peluang turut membantu kesenjangan pengetahuan yang dampaknya pada kesenjangan ekonomi dan sosial ini. Bahkan amanat Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat sudah cukup menjadi alasan mengapa ini harus dilakukan. 

Satu ketika penulis merenung tentang Fakultas tempat belajarnya yakni Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Berbagai teori di transfer dosen ke mahasiswa dengan ragam mata kuliah seperti teori Pemasaran awal, Pemasaran Lanjutan, Koperasi dan UKM, Studi Kelayakan Bisnis, dan begitu banyak hal lagi. Bahkan sesekali diselipkan contoh bagaimana teori-teori itu bekerja di perusahaan besar dan berevolusi menjadi laba yang Besar. Benar! ini juga harus di praktekkan ke pedagang kecil. Kondisi ekonomi rakyat harus dijadikan Laboratorium sosial atas ragam teori seabrek ini. Kesenjangan menjadi alasan kuat mengapa Perguruan Tinggi harus hadir. Jangan sampai semua pasrah dengan pepatah bahwa yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin, hingga muncul apatisme untuk tidak berpihak lagi.

Penulis terkesima dengan salah satu dosen yang menerapkan teori ekonomi nya ke pemberdayaan masyarakat di berbagai daerah. Sangat masif melibatkan banyak pihak. Dosen berbagai disiplin ilmu, pemerintah, dan tentu masyarakat yang diberdayakan. Bahkan suistainability pun dilakukan dengan pembinaan selama setahun. Hingga lahir pedagang-pedagang yang bertransformasi menjadi pebisnis. Inilah kiranya kekerenan yang perlu banyak dilakukan oleh para dosen panutan mahasiswa.

Lalu Bagaimana dengan Mahasiswa?

Mata Kuliah yang penulis pelajari yakni Studi Kelayakan Bisnis bisa jadi sarana praktek di Laboratorium sosial tersebut. Teori-teori pemasaran seperti branding, 7P, Penetrasi Pasar, Distribution Channel, atau Marketing 4.0 yang dikenalkan Hermawan Kertajaya, perlu kiranya untuk dipraktekkan. Teori-teori keuangan seperti penghematan biaya dengan menekan cost, proporsi laba ditahan, atau teori Kewirausahaan maupun operasional seperti retail management, Human Resources, Point of Sales dan teori lainnya juga bisa dipraktekkan.

Konkret nya?

Satu kelas yang biasanya diisi 30-40 orang mahasiswa, bisa dibagi menjadi 10 kelompok. Satu kelompok bisa mencari satu UMKM kecil untuk dibina. Cukup selama satu semester. Laporan di awal kondisi pedagang tersebut menjadi bahan diskusi yang dipecahkan dikelas. Bantuan packaging, branding, promosi, channel distribusi, dengan mengawinkan teknologi pun bisa dilakukan. Dalam satu semester, targetnya ragam masalah yang dihadapi pedagang bisa dipecahkan hingga betul-betul mencapai profit yang lebih baik. Jika satu mata kuliah memiliki 3 kelas, dengan satu kelas sebanyak 10 kelompok, maka sudah ada 30 kelompok dan 30 pedagang kecil pula yang terbantu atas abdi ilmu tersebut.

Pada akhirnya ada banyak gagasan yang lahir dari siapapun dan dimanapun. Tentu Fakultas dengan disiplin ilmu apapun bisa berbakti pada Laboratorium Sosial ini. Tinggal apakah mau membuat itu menjadi nyata. Perguruan Tinggi adalah lahirnya kaum cerdas. Namun cerdas saja tentu tidak cukup, karena urat peduli lah yang juga perlu terus dipupuk. Jangan sampai Perguruan Tinggi dianggap rakyat kecil seperti menara ekslusif yang hanya memikirkan teori dan diri sendiri, tanpa mempraktekkan ilmu ke masyarakat dan tak menyentuh bumi.

Perguruan Tinggi lah yang masih menjadi harapan tinggi pedagang kecil. Mereka yang tiap harinya dihantui apakah keluarganya masih bisa makan untuk hari ini, dan apakah anaknya bisa melanjutkan sekolah, atau kembali bernasib seperti bapak ibu nya lagi.

Amanat Tri Dharma Perguruan Tinggi. Transfer Pendidikan - Meneliti masalah - Mengabdi pada masyakarat. Semoga itu kita, Amin.

*)Mahasiswa Sem 8, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Lambung Mangkurat.
(Founder Bilikdana.com)

Posting Komentar

favourite category

...
test section describtion

Whatsapp Button works on Mobile Device only