Literatur Keislaman Generasi Milenial : Ancaman atau Membahagiakan | Berita Banjarmasin | Situs Berita Warga Banjarmasin

Jumat, 19 Januari 2018

Literatur Keislaman Generasi Milenial : Ancaman atau Membahagiakan

Banjarmasin, BBCom – Literatur seperti apa sih yang menjadi rujukan generasi zaman now, sampai begitu banyak muncul bibit radikalisme dikalangan anak muda ini ? Riuhnya media sosial dengan pemikiran – pemikiran radikalisme, intoleransi dan ‘salah jalan’ memunculkan sejumlah keraguan tentang kemampuan literasi generasi melenial.
(Foto : Prof. Mujiburrahman saat memberi sambutan/ Beritabanjarmasin.com)

Minat baca di Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara, Kata presenter Mata Najwa di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) Jumat (11/8/2017) malam, dikutip dari Antara.

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan LP2MI UIN Antasari Banjarmasin melakukan diseminasi hasil penelitian di Hotel Swiss-Bell Hotel, pada Kamis (18/1). Mereka melakukan penelitian tentang Literatur Keislaman Generasi Milenial.

Kegiatan ini menghadirkan para narasumber yang juga sekaligus sebagai para penelitinya seperti Dr. Ahmad Rafiq, Dr. Sunarwanto, Dr. Ibnu Burdah, dan Dr. Suhadi. Kemudian juga menghadirkan Prof. Dr. H. Mujiburrahman dan Dr. Ali Munhanif sebagai panelis.

Dr. Ahmad Rafiq sebagai penanggung jawab Riset ini mengatakan, “Riset ini tentang literatur keislaman yang ada lalu kemudian diakses atau dibaca oleh pelajar SLTA dan Mahasiswa diperguruan tinggi kita lakukan ada di 16 kota di Indonesia termasuk Banjarmasin, masing – masing dikota itu kita mengambil 5 SLTA dan 5 Perguruan Tinggi dengan mempertimbangkan keberagaman corak perguruan tinggi atau SLTA berbasis agama islam dan berbasis umum."

Ia juga mengatakan, “Bahwa Tujuan utamanya yaitu untuk melihat apa saja literatur keislaman yang tersedia disana, lalu kemudian yang kedua bagaimana literatur itu diterima dan diresepsi oleh siswa ataupun mahasiswa dan hasil dari temuan kita memang secara umum menarik dan beragam bahwa literatur keislaman ini bisa kita polakan melalui basis ideologi yang mereka bawa. Ada yang membawa basis ideologi Jihadis jadi perang dan sebagainya, ada yang membawa basis ideologi Tahrir kemerdekaan merdeka, bebas, dan biasanya tatanan negara islam menjadi negara islam, ada juga basis ideologi salafi yang membawa jargon kembali kegenerasi salaf kemudian membatasi sikap toleran yang berbeda.”

Masih oleh Dr. Ahmad Rafiq ia juga menjelaskan pada saat hasil riset yang dilakukan oleh tim peneliti muncul pula literatur dari gerakan agak belakangan yaitu gerakan tarbiyah yang berorientasi kepada Ikhwanul Muslimin. "Dari hasil temuan kita bahwa literatur- literatur seperti ini memang ada disekolah – sekolah dan perguruan tinggi tetapi polanya tidak konsisten atau tidak seragam, jadi literatur Jihadis hanya ditemukan di beberapa kota dari 16 hanya ditemukan di 3 kota dan itupun tidak signifikan dia hanya beredar dikalangan tertentu, tpi dia ada dan perlu diwaspadai."Katanya.

Di level kedua ada literatur Tahriri, tersegmentasi dalam ideologi mereka saja, walaupun berkurangnya akses ke literatur tahriri ini akibat dari Perppu Ormas yang dikeluarkan oleh Pemerintah karena riset ini dilakukan berdekatan dengan diberlakukannya perpu tersebut.

Di level ketiga kita ada literatur salafi. Di Kalimantan Selatan literatur salafi tidak banyak ditemukan, berbeda seperti di Bandung yang banyak penulis lokalnya masih fokus di literatur salafi.

Sebagai penutup beliau juga mengatakan bahwa, “Ada juga literatur luar yang di gandrungi generasi muda dari literatur diatas  yakni literatur Islamisme Populer seperti buku – buku karya Habiburrahman El Shirazy, Felix Y Siauw dan Salim A Fillah." 

Diakhir Semua peneliti berharap selain adanya pembekalan agama melalui pemerintah ada juga program pendukung untuk menambah dan memperkaya wawasan kebangsaan dan kecintaan akan NKRI. [Afs/Ayo]

favourite category

...
test section describtion

Whatsapp Button works on Mobile Device only