Jumat, 09 Maret 2018

Pelarangan Cadar Bagi Mahasiswi, Lena Hanifah : Don't Judge a Book by its Cover

Banjarmasin, BBCom - Polemik rencana pelarangan mahasiswi bercadar di UIN Sunan Kalijaga (Suka) Yogyakarta mengemuka beberapa waktu belakangan. 
Lena Hanifah, Akademisi Universitas Lambung Mangkurat/beritabanjarmasin.com
Hal itu dipicu penerbitan surat resmi dengan nomor B-1031/Un.02/R/AK.00.3/02/2018. Dalam surat disebutkan, rektorat akan memecat mahasiswi yang tidak mau melepas cadar mereka saat beraktivitas di kampus. Pihak kampus telah melakukan pendataan jumlah mahasiswi yang mengenakan cadar. 

Rektorat sudah membentuk tim konseling dan pendampingan kepada mahasiswi bercadar agar mereka mau melepas cadar saat berada di lingkungan universitas.

Mereka akan mendapatkan pembinaan dari kampus melalui tujuh tahapan berbeda. Jika seluruh tahapan pembinaan telah dilampaui dan yang bersangkutan tidak mau melepas cadar, UIN Suka akan melakukan pemecatan. 

Sontak hal ini menimbulkan pro dan kontra di berbagai kalangan, termasuk Lena Hanifah akademisi dari Universitas Lambung Mangkurat. 

Ia mengatakan secara pribadi menghargai kebebasan seseorang mengekspresikan nilai keagamaan yang dianutnya. 

"Iya, termasuk dalam berpakaian (cadar-red) sesuai keyakinan. Karena tidak patut ada pembatasan atau bahkan mungkin diskriminasi terhadap nilai-nilai tersebut. Apalagi kita hidup di negara hukum, dan UUD juga mendukung," ujarnya kepada beritabanjarmasin.com.

Lena juga menambahkan kekhawatiran penyebaran paham radikalisme mungkin juga harus digarisbawahi. 

"Don't judge a book by its cover. jangan menilai hanya dari penampilan. Bersorban belum tentu kyai, berkopiah putih belum tentu Ustaz, bercadar pun belum tentu radikal," paparnya yang juga kandidat doktor pada University of New South Wales, Australia ini. 

Sependapat dengan Lena, Ketua KAMMI Banjarmasin M. Alfiansyah menganggap kurang etis apabila Kampus melarang Mahasiswanya untuk menggunakan Cadar dengan alasan apapun Karena memakai cadar bagian dari menjalankan agama dan itu sudah di jamin oleh UUD 1945. 

Sementara salah seorang mahasiswa pasca sarjana UIN Antasari, Sigit hidayat menyayangkan dengan adanya pelarangan tersebut. 

"Menurut saya wajar saja, kampus kita berbasiskan islam, yang dipelajari juga ilmu-ilmu keislaman, wajarlah jika menggunakan atribut-atribut keislaman, jadi aneh kalau orang-orang di kampus islam tetapi perempuannya memakai pakain ketat dan mini," selorohnya. [afs/ayo]

favourite category

...
test section describtion

Whatsapp Button works on Mobile Device only