Meneropong Kans Politik Para Tokoh di Pilkada Kalsel ala DR Taufik Arbain | Berita Banjarmasin | Situs Berita Data & Referensi Warga Banjarmasin

VIDEO BERITA

Jumat, 14 Juni 2019

Meneropong Kans Politik Para Tokoh di Pilkada Kalsel ala DR Taufik Arbain

DR Taufik Arbain | foto: suarindonesia
BERITABANJARMASIN.COM- Pengamat Politik Kalsel DR Taufik Arbain, menuturkan pandangannya terhadap Pemilu yang berlangsung nanti dan memaparkan terkait banyaknya nama yang digadang akan maju berlaga dalam kontestasi Pilkada. Lalu Bagaimanakah pemaparannya terhadap figur figur untuk keberlangsungan demokrasi yang ada?

Dirinya menyampaikan banyaknya bermunculan figur-figur yang memiliki kans dalam kontestasi pilkada Gubernur-Wakil Gubernur maupun Wali-Wawali dan Bupati mendatang justru memberikan nuansa gairah demokrasi  yang sangat bagus menuju kematangan demokrasi warga banua.

Sebab kata ia, demokrasi dihadirkan memang untuk membangun kegairahan dan partisipatif dalam menggunakan hak memilih dan dipilih. "Maka jika ada aroma isu-isu pembatasan atau komentar mendownkan kandidat lain, justru kita mengarah pada penguatan defisit demokrasi," ujarnya.

Dijelaskannya dalam seminggu terakhir misalnya ada bermunculan nama-nama untuk bakal menjadi kontestasi Gubernur diluar soal demokrasi yang justru memberikan keuntungan bagi para kontestan. Sebab dengan munculnya nama-nama tersebut memungkian adanya strategi (1) memetakan siapa sesungguhnya lawan utama dalam pilkada, (2) memetakan siapakah yang lebih tepat mendampingi atau didampingi, (3) mempetakan seberapa besar respon publik atas diri kandidat dan pesaing, (4)  memetakan jaringan apa yang tepat menghadapi lawan, (5) framing dan strategi public opinion maker bagaimana diluncurkan, dan terakhir (6) terpetakan mana pehayaman, pembalantikan dan pembanjuran maandak lukah, (dalam istilah Banjar).

Disebutkannya munculnya nama nama seperti Sultan Khairul Saleh,  H Sulaiman Umar, Rosehan NB, Mardhani Maming bahkan Rudy Resnawan adalah putera-putera banua yang memiliki potensi untuk menjadi kans Gubernur  Kalimantan Selatan di masa akan datang.

Termasuk kans wakil gubernur Habib Abdurahman, Habib Hamid, H Haris Makie, H Muhidin, Ibnu Sina, Hasnuriyadi, Hasanudin Murad, Aditya Mufti Arifin, maupun Rifki Nizami Karsayuda. "Munculnya figure-figur demikian harus kita apresiasi betapa meriahnya dinamika politik dan demokrasi di banua ini, karena mereka telah menorehkan jejak kepolitikannya di banua ini," terangnya.

Munculnya figur-figur tersebut dalam politik dipaparkannya  tidak serta-merta vis a vis antara petahanan  dan penantang, justru memungkinkan terjadinya saling mengisi  siapa menjadi Gubernur dan siapa menjadi wakil. 

Jika hari ini misalkan Paman kata ia, diisukan akan berdampingan dengan H Muhidin, bisa saja Paman akan berdampingan dengan yang lain tergantung 5 point yang telah disampaikannya sebelumnya. 

Justru munculnya nama-nama kandidat ini ujarnya akan dengan mudah menentukan siapa wakil yang akan turut membantu mendulang suara. "Jadi politik itu fleksibel dan soal waktu. Jika pasangan diplot sedari awal tanpa melihat siapa lawan, justru akan kontra produktif," ungkap pengamat politik dan kebijakan publik FISIP Universitas Lambung Mangkurat ini.

"Kita sangat meyakini bahwa Paman Birin sebagai petahanan hari ini, sangat berbangga jika muncul calon-calon penantang beliau. Selain menjadi bahan analisis strategi bagi Paman, justru yang utama Paman Birin sebagai Wakil  Pemerintah Pusat, Gubernur Kalsel adalah Pembina politik di daerah yang otomatis membuka ruang-ruang demokrasi yang elegan dan bergairah wujud kemampuan beliau dalam membina kondisi politik dengan baik," urainya.

"Jadi kalau ada mengisukan sedari dini, sekali lagi sedari dini Paman Birin melawan Kotak Kosong, justru kontra terhadap sikap arif paman yang selama ini welcome  soal persaingan politik, dan malah merugikan Paman karena akan mendorong terbentuknya common enemy terhadap Paman," ungkap Doktor jebolan Fisipol UGM ini.

Lebih jauh dirinya menjelaskan dinamika politik saat Pemilu Presiden dan Legislatif dipastikan menjadi indikator pemetaan bagi para analis-analis politik. Tidak linearitasnya kemenangan parpol, ormas-ormas, komunitas penyokong capres-cawapres di Kalsel diperlukan ketajaman dalam membaca peluang-peluang dan kemungkinan-kemungkinan.  
 
Aspek kultural, representasi kawasan dan latarbelakang, jaringan, kesiapan finansial, aspek praktek kleintenlesme politik akan mudah melihat  berapa figure yang akan menjadi konstestan  pada tahapan penetapan calon, bisa 2 paslon atau 3 paslon bahkan cuma 1. "Bahkan kondisi Pilkada serentak Provinsi/Kab/Kota menjadi bagian yang tidak bisa dilepaskan dalam taktik kemenangan," paparnya. (maya/sip)

Posting Komentar

favourite category

...
test section describtion

Whatsapp Button works on Mobile Device only