Film Dokumenter dan Workshop Digelar untuk Lestarikan Musik Sensapi Dayak Deah
BERITABANJARMASIN.COM, TABALONG – Pelestarian alat musik tradisional sensapi masyarakat Dayak Deah dilakukan melalui pendokumentasian film, workshop, dan pemutaran film edukatif. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program “Ritus Bunyi Deah: Penciptaan Komposisi Musik Sensapi dan Produksi Film Dokumenter dalam Revitalisasi Tradisi Dayak Tabalong” yang didukung Dana Indonesiana Tahun 2025.
Program yang penerima manfaat sekaligus penanggung jawabnya Prof. Dr. Rusma Noortyani, M.Pd. ini berfokus pada pendokumentasian pengetahuan tradisional, pengembangan kreativitas musik, serta regenerasi pelaku seni untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya Dayak Deah.
“Pelestarian sensapi tidak cukup hanya dengan mendokumentasikan bentuk dan cara memainkannya. Pengetahuan, nilai budaya, dan pengalaman para maestro juga perlu diwariskan kepada generasi muda agar tradisi ini tetap hidup,” Ujar Prof Rusma Noortyani.
Sensapi merupakan alat musik petik tradisional masyarakat Dayak Deah yang berasal dari Kecamatan Upau, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Instrumen ini memiliki bentuk menyerupai perahu dan secara tradisional dibuat dari kayu sembalikangin. Selain berfungsi sebagai alat musik, sensapi juga berkaitan dengan kehidupan adat dan spiritual masyarakat serta mengandung nilai simbolik yang berhubungan dengan alam, leluhur, dan identitas budaya Dayak Deah.
Rangkaian kegiatan diawali dengan produksi film dokumenter di lapangan pada 5–20 Mei 2026, kemudian dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) pada 23 Mei 2026. Proses dokumentasi mencakup sejarah sensapi, teknik permainan, proses pembuatan, pengalaman para pelaku seni, serta konteks sosial dan budaya yang menyertai keberadaan instrumen tersebut.
Hasil dokumentasi dikembangkan menjadi film budaya berjudul Bunyi yang Bertutur, yang mengangkat sensapi sebagai warisan budaya yang menyimpan pengetahuan, pengalaman, dan ingatan kolektif masyarakat Dayak Deah.
Upaya pelestarian berlanjut pada 6 September 2026 melalui workshop permainan dan pembuatan sensapi. Kegiatan ini menghadirkan Maestro Sensapi Matuo Delish, praktisi musik ritual sensapi Srikandi, serta pengembang musik sensapi Palui Banaran atau Muhamad Irfan Maulana.
Workshop tersebut menjadi ruang berbagi pengetahuan mengenai teknik permainan, proses pembuatan instrumen, pengalaman berkesenian, serta kemungkinan pengembangan musik sensapi dalam kehidupan masyarakat masa kini.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, film dokumenter Bunyi yang Bertutur diputar dalam sejumlah sesi yang disertai diskusi budaya pada 15–20 Oktober 2026. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat, pelajar undangan, dan masyarakat umum.
“Kami berharap film Bunyi yang Bertutur dapat menjadi media pembelajaran bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal sensapi dan memahami pentingnya menjaga warisan budaya Dayak Deah,” ujarnya.
Melalui pemutaran film dan diskusi, peserta diperkenalkan pada keberadaan sensapi, proses pembuatan, teknik permainan, serta nilai budaya yang melekat pada alat musik tradisional tersebut. Diskusi juga menjadi ruang untuk membangun pemahaman mengenai pentingnya pelestarian tradisi di tengah perubahan sosial dan perkembangan zaman.
Program Ritus Bunyi Deah menempatkan dokumentasi sebagai salah satu upaya pelestarian yang perlu diikuti dengan pembelajaran dan praktik secara berkelanjutan. Pengetahuan tentang sensapi diharapkan dapat diwariskan dari para maestro dan pelaku seni kepada generasi berikutnya, sekaligus membuka ruang pengembangan kreativitas musik tanpa menghilangkan akar tradisi dan nilai budaya yang mendasarinya.
Film dokumenter tersebut juga diharapkan dapat menjadi sumber pembelajaran dan referensi budaya bagi masyarakat serta lembaga pendidikan. Melalui dokumentasi, workshop, dan edukasi, sensapi diupayakan tetap dikenal, dipelajari, dan dimainkan sebagai bagian dari identitas serta dinamika kebudayaan masyarakat Dayak Deah. (adv)


Post a Comment