Header Ads

Pelopor Konseling Genetika di Kalimantan Selatan, FKIK ULM Perkuat Pendampingan Keluarga Anak Disabilitas Intelektual

BERITABANJARMASIN.COM - Tidak sedikit orang tua anak dengan disabilitas intelektual menjalani hari-hari mereka dengan pertanyaan yang sama selama bertahun-tahun: mengapa kondisi ini terjadi pada anak saya, apakah dapat terulang pada anak berikutnya, dan siapa yang akan mendampingi mereka ketika kami tidak lagi mampu? 

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi latar belakang terselenggaranya kegiatan “Edukasi Konseling Genetika bagi Orang Tua Anak Disabilitas Intelektual” yang dilaksanakan oleh Tim Pengabdian Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Lambung Mangkurat melalui Program Dosen Wajib Mengabdi (PDWA).


Kegiatan yang berlangsung di Gedung Theater FKIK ULM ini mendapat perhatian dan respons positif dari para orang tua dan wali siswa SLBN 2 Banjarmasin yang hadir. Sejak awal hingga akhir kegiatan, peserta mengisi ruang diskusi dengan berbagai pertanyaan, pengalaman, dan harapan tentang masa depan anak-anak mereka. Suasana menjadi emosional ketika sejumlah orang tua mengungkapkan kekhawatiran mengenai kemandirian anak di masa dewasa, peluang pendidikan, pekerjaan, hingga kemungkinan membangun kehidupan berkeluarga.

Ketua Tim Pengabdian, DR dr Hj. Siti Wasilah, M.Si., Med., menyampaikan bahwa selama ini perhatian terhadap anak disabilitas intelektual sering berhenti pada aspek perawatan dan pendidikan dasar. Padahal, setiap anak memiliki potensi yang perlu dikenali dan dikembangkan agar mampu menjalani kehidupan yang lebih mandiri. Menurutnya, diagnosis yang tepat bukan sekadar memberikan nama pada suatu kondisi, tetapi menjadi pintu masuk untuk memahami kebutuhan anak, merancang pendampingan yang sesuai, dan membantu keluarga mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

Kegiatan ini juga menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya, yaitu dr. Syaiful Fadillah, Sp.KJ., yang mengupas berbagai tantangan kesehatan mental yang dihadapi keluarga anak dengan disabilitas intelektual, serta dr. Arief Budiarto, Sp.A(K)., yang menjelaskan aspek tumbuh kembang dan kebutuhan kesehatan anak secara komprehensif. 

Melalui penyampaian yang komunikatif dan berbasis pengalaman klinis, para narasumber berhasil membangun pemahaman bahwa anak dengan disabilitas intelektual bukan sekadar individu yang membutuhkan bantuan, tetapi juga individu yang memiliki hak untuk berkembang, berpartisipasi, dan hidup bermartabat.

Lebih dari sekadar seminar, kegiatan ini menjadi ruang harapan bagi banyak keluarga. Untuk pertama kalinya, orang tua diajak memahami bahwa di balik diagnosis terdapat peluang untuk merencanakan masa depan anak secara lebih terarah, termasuk dalam aspek kemandirian, kehidupan sosial, dan kualitas hidup jangka panjang.

Kegiatan ini sekaligus menjadi salah satu langkah awal yang visioner dalam memperkenalkan konseling genetika kepada masyarakat Kalimantan Selatan sebagai bagian dari upaya memperkuat layanan bagi penyandang disabilitas intelektual.

Melalui kolaborasi antara akademisi, tenaga kesehatan, sekolah, dan keluarga, kegiatan ini diharapkan menjadi fondasi lahirnya gerakan yang lebih luas: mengubah paradigma dari sekadar merawat menjadi memberdayakan, dari sekadar memahami keterbatasan menjadi mengenali potensi, serta dari sekadar bertanya tentang masa depan menjadi bersama-sama mempersiapkannya. (bbcom)

Tidak ada komentar

close
pop up banner