Rabu, 13 Juni 2018

Inilah Potret "Kolektor" Sampah Basirih Kala Berbuka Puasa Bersama Sahabat Kemanusiaan

(Kanan) Muhammad Maulidi Ahya perwakilan ACT kalsel menyerahkan paket buka puasa kepada warga TPA Basirih/beritabanjarmasin.com

BANJARMASIN, BBCOM - Fatimah dan Rizki. Dua bocah itu ikut berdiri dalam antrian. Sepatu boot warna kuning yang dikenakan Fatimah terlihat kotor, pertanda ia baru berjibaku dengan ribuan sampah. Tangannya senantiasa merangkul sang adik, seakan enggan berpisah. Setelah mendapatkan paket berbuka puasa, mereka segera pergi tanpa banyak bicara.

Kakak-beradik ini mungkin hanya sedikit gambaran tentang betapa kerasnya kehidupan di pinggiran Kota Banjarmasin. Di saat anak seusia mereka yang lain sedang asik bermain atau jalan-jalan sembari menunggu waktu berbuka puasa, mereka harus berpuas diri berada di tengah gunungan sampah. 

Ya, sore Jumat (8/6/2018) tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) Kalimantan Selatan berkesempatan menyambangi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Basirih Kota Banjarmasin dan berbagi kebahagiaan.

Bekerja sama dengan beberapa komunitas, ACT Kalsel mengantarkan 100 paket berbuka puasa untuk Fatimah dan Rizki, serta para pemulung lain. Dalam hitungan menit saja, paket-paket tersebut sudah ludes dibagikan. 
(kiri) Rizki dan (kanan) Fatimah warga TPA Basirih/beritabanjarmasin.com
TPA Basirih terletak 14 km di sebelah selatan kota Banjarmasin. Sekitar 600 ton sampah setiap harinya diangkut ke tempat pembuangan akhir tersebut. Baunya tentu saja menyengat. Masyarakat umum mungkin tak mau berkunjung ke sana, lantaran membayangkan saja sudah malas. Apalagi jika harus bergelut dalam puluhan ribu ton sampah. Tapi hal itu justru tak berlaku bagi para pemulung. Bermodalkan sebuah keranjang, mereka mengais setiap sampah, mengais rupiah. ketika mobil ACT muncul, wajah-wajah berminyak dan penuh keringat itu langsung terlihat sumringah. Sejenak, mereka meninggalkan kegiatan mereka mengais sampah dan menghampiri para relawan yang mendistribusikan makanan. Salmah, Perempuan muda berusia 28 tahun itu mengaku senang sekali. Baginya, sekotak nasi beserta lauk dan takjil itu sangat berarti. “Alhamdulillah, himung banar ulun (saya senang sekali). Lumayan bisa menghemat jatah makan hari ini,” ungkapnya. 

Sehari-hari Salmah dan suaminya memulung sampah di TPA Basirih dengan penghasilan rata-rata Rp. 60-70 ribu. Cukup berat karena ia harus menghidupi tiga orang anak. “Ya mau bagaimana lagi, kami bisanya cuma kerja begini. Cari kerjaan lain susah,” tuturnya. 

Muhammad Maulidi Ahya perwakilan ACT Kalsel menyampaikan rasa syukur bisa turut memberikan kebahagiaan Ramadan kepada warga di TPA Basirih. “Kami menyampaikan amanah zakat dari para donatur di Kalimantan Selatan. Alhamdulillah, ikhtiar untuk memberikan Ramadan terbaik bisa terwujud di sini,” ucapnya. 

Hari itu, amanah para sahabat kemanusiaan di Kalimantan Selatan telah menyapa warga Banjarmasin. Menghadirkan kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Meski hanya dengan sekotak nasi dan takjil untuk berbuka puasa. (act/ayo)

Posting Komentar

favourite category

...
test section describtion

Whatsapp Button works on Mobile Device only