Minggu, 20 Mei 2018

Menachem Begin, "Teroris" yang Pernah Menjadi Perdana Menteri Israel

Reja Fahlevi, Ilustrasi Foto Zulfian/beritabanjarmasin.com
Menachem Begin, "Teroris" yang Pernah Menjadi Perdana Menteri Israel 
BBCOM, Oleh Reja Fahlevi*)

Realitas historis dunia pernah mencatat bahwa pernah ada seorang "teroris" dunia yang gemar melakukan pemberontakan lalu menduduki posisi penting dan menjadi orang nomor satu di negaranya, Israel. Kemungkinan atas dasar itu mengapa hingga sekarang Israel bertindak kejam, keji dan tidak berprikemanusiaan hingga di benci oleh masyarakat dunia.

Siapakah teroris yang pernah menjadi Perdana Menteri di Israel ? Dia adalah Menachem Begin, tokoh yang berpandangan tajam walau umurnya sudah kepala enam saat itu. Ia menjadi tokoh sentral yang paling disegani. Yang berhasil mendapatkan simpati masyarakat Israel walau dunia mengutuknya sebagai teroris. 

Menachem Begin dilahirkan di Polandia. Dia pindah ke Palestina pada tahun 1942. Ayahnya seorang bangsawan Eropa dan Ibu seorang Yahudi. Sebelum menjadi Perdana Menteri, Ia pernah memimpin pasukan bawah tanah yang sangat kecil, tetapi sangat terkenal lantaran keuletan mereka dibidang teror. Sasaran utamanya kala itu adalah Desa Arab yang dipakai untuk pangkalan pasukan Inggris. Di antara peristiwa yang terkenal mereka lakukan adalah membakar Hotel Raja Daud di Yerusalem yang mengakibatkan tewasnya 95 orang serdadu Inggris. Kemudian kelompoknya melakukan tindakan teror lain di Desa Arab Deir Yassin yang mengakibatkan 250 orang Arab mati.

Beberapa tahun berselang, Begin mulai terjun ke dunia politik ketika Israel menjadi negara merdeka di tahun 1948 dan menjadi pemimpin di partai Herut. Partai ini sangat militan walaupun anggotanya sedikit. Dia memimpin kembali para teroris untuk melawan keputusan Perdana Menteri Ben Gurion kala itu. Sebab mereka tidak setuju tindakan Ben Gurion yang menerima rampasan perang dari Jerman Barat, sebagai ganti rugi bagi terbunuhnya orang-orang Yahudi sebanyak 6 juta orang oleh Nazi. Bahkan Ayah Begin sendiri menjadi korban keganasan Nazi. 

Partai Herut berkembang konsisten dalam setiap Pemilihan Umum. Para pendukungnya selalu bersekutu dengan sayap kanan lainya. Dan dalam tahun 1973 mereka membentuk partai Likud yang merupakan gabungan dari enam Partai di Israel. 

Tentunya gelagat dari Begin menjadi sebuah kekhawatiran bagi pemimpin-pemimpin Timur Tengah yang merasa dirinya terusik kembali. Perang Timur Tengah diramalkan bakal berkorbar kembali dan semakin dahsyat, lantaran Begin jadi Perdana menteri yang menggeser kekuatan Partai Buruh di Israel. 

Dan memang betul saat Pemilu berlangsung, 44 kursi dikuasai oleh Begin setelah partainya mendapatkan suara pemilih sebesar 2,2 juta orang, sedangkan partai Buruh hanya mampu menduduki 33 kursi saja, padahal partai Buruh kala itu mempunyai tokoh seperti David Ben Gurion, Levi Eshkol dan Golda Meir. Partai Likud yang telah berhasil mencapai kemenangan mutlak itu adalah penjelmaan dari paham sosialis yang hidup di Israel yang dengan cepat membelok arah tajam ke kanan dan mungkin sekali akan mengambil garis keras terhadap negara-negara Arab. 

Pasca menangnya Begin pada Pemilu, Presiden Mesir Anwar Sadat mengadakan pertemuan dengan Raja Arab Saudi, Fahd beserta pemimpin Suriah Hafez Assad kala itu untuk mendesak Amerika Serikat agar mau membujuk Israel supaya "jinak". Sebab, psikologis politik Timur Tengah bakal terganggu apabila kepemimpinan Begin tumbuh berkembang sebagaimana seperti tuntutanya di tahun-tahun sebelumnya. 

Beberapa surat kabar Israel telah menggambarkan karakter seorang Teroris yang kini menjabat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di Israel. Ketakutan yang dimaksud oleh negara Arab ialah karena Begin dengan kelompok terorisnya Irgun, ditakuti oleh dunia lebih-lebih antara tahun 1945-1948. 

Salah satu langkah yang dilakukan oleh Amerika Serikat adalah mempersulit Begin dalam mendapatkan pasangan Koalisi. Di kalangan diplomat Barat yang mengharap agar Begin sebagai Perdana Menteri yang baru bisa bersikap lunak dari sikap bengisnya di Timur tengah. 

Tetapi harapan diplomat Barat mengalami kekecewaan dan tidak bisa terpenuhi, mengingat pada tanggal 13 Juni tahun itu, Begin tidak berhasil menarik salah satu partai politik kunci untuk berkoalisi dalam pemerintahan, setelah ia menolak berkompromi mengenai isu politik dalam usaha perdaiman Timur Tengah, yaitu dalam soal tepi barat sungai Jordan. Namun di sisi lain saat itu Begin juga belum mendapatkan pasangan koalisi guna mendapatkan mayoritas di dalam parlemen. Untuk itu Begin menginginkan dukungan dari Gerakan Demokrasi Untuk Perubahan (DMC). 

Begin sebetulnya bisa mendapatkan dukungan dari gerakan tersebut, seandainya ia mau berkompromi dengan prinsip DMC. Tetapi Begin dengan sifat kerasnya, selalu ngotot dan akan membayar bagian manapun dari tepi sungai Yordan, sebelum menuju perdamaian. 

Walaupun prinsipnya tidak semutlak "orang gila", tetapi ia malah melanjutkan rencananya kepada Mosche Dayan untuk menjadi menteri Luar Negeri Israel, walaupun orang-orang Israel tidak mau melihat kemunculan kembali tokoh terebut. 

Itulah sepenggal kisah dari seorang "teroris" yang akhirnya berhasil menjadi orang nomor satu di Israel kala itu, dari kisah ini kita bisa belajar dan mengantisipasi gerakan-gerakan terorisme yang belakangan ini kembali menghantui Ibu Pertiwi. Ada sebuah pepatah lama mengatakan watak sebuah negara bisa dilihat dari watak seorang pemimpinnya. Jika di suatu saat nanti Indonesia muncul seorang dari kalangan teroris yang berhasil menduduki posisi penting di negeri ini, maka kuat indikasi akan mengarahkan kepada kehancuran. Nauzubillah.

*)Akademisi Pendidikan Kewarganegaran FKIP ULM dan Pengamat Politik Internasional

Posting Komentar

favourite category

...
test section describtion

Whatsapp Button works on Mobile Device only