Kamis, 01 Maret 2018

Dua tahun Walikota Banjarmasin, Kritik Itu Berat Kalian Tak Akan Kuat Biar Aku Saja


Dua tahun Walikota Banjarmasin, Kritik Itu Berat Kalian Tak Akan Kuat Biar Aku Saja

BBCom, Oleh Rahmat Hidayat*)
Ilustrasi : Rahmat Hidayat
Puja-puji akan menenggelamkan kita pada rasa puas dan bangga diri, oleh karena itu kritik mutlak di perlukan agar demokrasi tak berhenti pada tepuk tangan. Dalam situasi ini kritik adalah peringatan dan sebuah pesan baik. 

Karenanya sebaik apapun pemerintah harus ada orang yang mengambil peran untuk memberikan kritik sebagai sebuah peringatan dan pesan baik agar kekuasaan tetap berkhidmat atas kepentingan rakyat serta agar yang kurang bisa diperbaiki, termasuk dalam melihat dua tahun pemerintahan Walikota Banjarmasin. 

Dua tahun yang lalu atas nama rakyat Banjarmasin, Ibnu Sina mendapatkan legitimasi untuk memimpin kota seribu sungai, legitimasi ini pada prinsipnya adalah sebuah kepercayaan serta harapan yang dititipkan rakyat kepada pemimpinya agar nantinya mandat dapat dilaksanakan secara seksama dan dengan sebaik baiknya. 

Setelah amanat dijalankan dalam dua tahun ini menurut saya harus ada catatan yang diberikan agar kekuasaan tidak menjadi kemaruk lalu berubah menjadi mabuk sebab kita seolah telah diingatkan oleh Goorge Orwel melalui sebuah kutipan dalam novel alegori masyhur Animal Farm bahwa power is a something that can be intoxicating, kekuasaan adalah sesuatu yang dapat memabukan oleh karena itu dalam rangka menjaga marwah pemerintahan yang Walikota jalankan agar tidak abai terhadap harapan masyarakat ada beberapa pesan yang selama ini saya cermati. 

Pertama, dalam nasihat lawas kita diingatkan bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati, dalam tata kelola pemerintahan selama ini kebijakan yang di keluarkan pemerintah kota cenderung untuk mengatasi persoalan yang sifatnya jangka pendek, alangkah baiknya bila pemerintah kota merancang sebuah kebijakan dalam rangka mencegah munculnya masalah dikemudian hari, seperti perencanaan transportasi massal yang berguna untuk menghilangkan kemacetan, sebagaimana jamak kita ketahui terdapat sekitar 247.108 kendaraan yang memadati kota Banjarmasin apabila kita merujuk data pada tahun 2014, angka ini terus naik dan dampak dari kenaikan ini adalah kemacetan yang mulai kita rasakan, apabila persoalan ini tidak ditangani dengan baik maka dimasa yang akan datang kemacetan akan menjadi mimpi yang lebih buruk bagi masyarakat kota Banjarmasin. 

Persoalan semacam ini solusinya tidak cukup hanya dengan membuat batasan jalan antara jalur kiri dan kanan saja seperti di sekitar simpang Jalan Kuripan dan Veteran, perlu ada kebijakan yang lebih serius dalam mengelola persoalan ini sebelum menjadi lebih buruk, seperti menyiapkan transportasi massal sebagai upaya membuat transportasi alternatif yang akan mengurangi volume kendaraan di Banjarmasin. 

Kedua, soal kebersihan dan keindahan, pemerintah kita telah menjadikan "BAIMAN" (barasih wan nyaman) sebagai tagline atau visi utama yang hendak dicapai yakni menjadikan Banjarmasin kota yang bersih serta nyaman. Tagline ini sangat menarik menurut saya akan tetapi selama ini barasih wan nyamanya versi pemerintah selain tidak optimal juga hanya menaruh perhatian pada lingkungan pusat perkotaan saja, perlu saya ingatkan bahwa Banjarmasin bukan saja sekitar Masjid raya, Menara Pandang ataupun kantor Walikota semata, Banjarmasin terbentang seluas 98,46 km oleh karena itu di tempat tempat lain juga harus segera dilakukan penataan dalam rangka menghadirkan kota Banjarmasin yang bujur bujur barasih wan nyaman (benar-benar bersih dan nyaman-red). 

Selama ini yang justru luput dari perhatian pemerintah kota adalah kondisi komplek pemakaman yang secara estetik tidak barasih wan nyaman, betapa tidak ada sekitar 11 komplek pemakaman yang tesebar di empat kecamatan yang ada di kota Banjarmasin yang kondisinya memprihatinkan, pasalnya pemakaman ini di genangi air baik ketika pasang maupun tidak yang kondisinya di perparah dengan warna air yang tidak bersih sehingga mengganggu mata serta tidak nyaman dipandang, oleh karena itu dalam rangka menciptakan kota yang barasih wan nyaman kondisi ini harus segera mendapatkan perhatian serius dari pemerintah kota. 

Ketiga, pemerintahan ini main aman, ia tidak hadir dengan ketegasan hal ini bisa kita lihat pada proses penataan sosial yang masih tidak optimal, saya mengenal Walikota adalah sosok berpadunya umaro dan ulama, ia adalah salah satu pemimpin yang memahami agama serta disaat yang sama ia diberikan amanah untuk menjadi seorang umaro, seharusnya dengan kapasitas yang Walikota miliki tiap jengkal pelanggaran yang menyangkut penyakit sosial semacam prostitusi dapat betul-betul di musnahkan. 

Selama ini saya menganggap tidak ada gebrakan yang betul betul berhasil terkait hal ini, sudah bukan rahasia umum lagi praktik prostitusi menjamur di kota yang menurut pandangan orang luar “agamis” artinya ada semacam paradoks yang terjadi jika kita bicara tentang prostitusi, kota yang dianggap agamis kemudian dipimpin oleh seorang yang memahami agama tetapi “bisnis cairan” masih berkembang adalah sebuah anomali yang musti dilakukan pembenahan secara cepat, misalnya seperti langkah walikota terdahulu yang berani menutup salah satu hotel di kecamatan Banjarmasin Selatan, adalah keberanian yang luar biasa yang musti dijadikan contoh oleh Walikota sekarang, dalam satu kata jangan bermain aman, kita selalu mendukung Walikota dalam menata kehidupan kota Banjarmasin. 

Perlu saya ingatkan bahwa Walikota diberikan titah oleh rakyat dengan penuh kepercayaan bahwa pemerintah akan bisa menghadirkan kota yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur jangan khianati kepercayaan ini, bekerjalah dengan baik serta berkhidmatlah atas kepentingan rakyat.

Semoga pesan baik ini menjadi cara kita semua merawat kekuasaan agar tetap sadar dan terjaga tidak mabuk dan tenggelam dalam tepuk tangan dan riuh rendah pujian. 

Akhirnya, A goverment, for proecting bussines only, is but a carcass, and soon falls by its own corruption and decay, sebuah pemerintahan yang hanya melindungi bisnis saja, tidak lebih dari sekedar cangkang, dan segera runtuh sendiri oleh korupsi dan pembusukan begitulah Amos Bronson Alcott filsuf Amerika mengingatkan.

Oleh karena itu disinilah kepemimpinan diuji mana yang autentik dan mana yang berselimut citra, disini ada banyak mata yang menunggu harapan yang dua tahun silam dititipkan untuk segera dilaksanaan. Salam.

*)Warga Kota dan Peneliti Institut Demokrasi dan Pemerintahan Daerah (Indepemda) 

favourite category

...
test section describtion

Whatsapp Button works on Mobile Device only