Rabu, 28 Februari 2018

Wayang Kulit Purwa Banjar, Masihkah Adiluhung ?

Wayang Kulit Purwa Banjar, Masihkah Adiluhung ?
BBCom, Oleh Novyandi Saputra, S.Pd, M. Sn*) 
ilustrasi foto : Zulfian/beritabanjarmasin.com
Dalam beberapa dekade terakhir wayang Banjar hidup dengan nafas tersengalnya. Menjadi pesakitan karena arus modernitas yang semakin merasuk sampai pada wilayah kesenian. Wayang kulit yang awalnya menjadi tontonan semua umur sudah berubah menjadi tontonan yang sektoral, yakni ditonton oleh kaum tua dan generasi yang lahir di tahun 1990'an. 

Di era 1970 sampai dengan 1990'an, pengaruh wayang kulit terhadap kehiduapan masyarakat bahkan sangat kuat ini terlihat dari bagaimana animo menonton wayang kulit purwa Banjar, penamaan-penamaan anak cucu mereka dengan nama tokoh wayang kulit purwa Banjar ini menimbulkan sebuah gelaja positivisme dalam kehidupan sehari-hari yang ditimbulkan oleh fenomena menonton wayang kulit. 

Wayang kulit purwa Banjar selalu ditampilkan dengan apa adanya perkembangan wayang banjar hanya terlihat dari penggunaan sound system saja, dari segi tampilan lainnya wayang banjar tetap saja seperti dulu. 

Hal ini bukan karena wayang Banjar tidak mampu untuk dikembangkan namun lebih kepada bagaimana masyarakat menganggap wayang Banjar sebagai sesuatu yang sangat adiluhung dan tidak boleh dirubah bentuk pertunjukannya karena ini akan mempengaruhi esensi dari wayang itu sendiri.

Dalang begitu kuat memegang amanah masyarakat pemilik budaya ini sehingga wayang kulit masih tampil dengan begitu klasik sebagai hiburan yang memiliki tuntunan. 

Tidak semua kesenian atau pertunjukan seni mampu mendapatkan gelar adiluhung. Gelar tersebut hanya bisa dimiliki oleh sebuah kesenian yang memiliki tiga aspek yakni tontonan-tuntunan-tatanan. 

Ketiga aspek ini melekat dalam tubuh wayang kulit Banjar. Pada masanya wayang Banjar mampu menjadi ruang edukatif yang menuntun masyarakat pada persoalan agama dan moral. Ia tidak sekedar sebagai hiburan namun berkembang memberikan pesan-pesan yang membentuk tatanan masyarakat menuju kebaikan. 

Kenyataan sekarang dan sebagai sebuah bentuk kritik atas keberadaan wayang kulit Banjar adalah hilangnya aspek tuntunan dan putusnya mata rantai penonton generasi sekarang. Wayang kulit Banjar hanya hadir sebagai sebuah tontonan, bahkan celakanya wayang kulit Banjar sekarang mulai terbawa arus pasar yakni mengikuti keinginan penonton. 

Padahal seharusnya wayang kulit Banjar harus mampu bertahan pada konsep sebagai sebuah tuntunan. Tentu hal itu sangat bergantung pada keahlian seorang dalang dalam meracik cerita yang kontekstual dan berdaya kritik terhadap keadaan sekarang. 

Namun zaman yang semakin maju dan pengaruh globalisasi pada masyarakat perkotaan yang sampai pada masyarakat pedesaan menggerus kehiduapan berkesenian wayang kulit purwa Banjar. Wayang perlahan kehilangan peminatnya dan mulai beralih dengan hiburan televisi yang notabenenya tidak perlu begadang dan sangat menghibur. 

Lebih parah lagi dalam lingkungan yang lebih urban, wayang Banjar hanya menjadi hiburan sampingan yang dihadirkan pada momen-momen tertentu saja seperti hari jadi kota atau kabupaten, peringatan hari besar tertentu, atau kegiatan politik kebudayaan tertentu. Ini menjadi sebuah ciri-ciri yang menggambarkan wayang Banjar yang adiluhung telah tersubordinasi oleh tumbuh kembangnya masyarakat urban. 

Wayang Banjar hanya melakukan pengulangan-pengulangan cerita yang sudah puluhan tahun diciptakan. Sangat jarang bahkan belum ada cerita-cerita baru yang aktual dan faktual terhadap keadaan sekarang. Cara berfikir tradisional seharusnya mulai dikembangkan untuk mengemas bahan cerita agar masyarakat bisa memahami dan mendapatkan tuntunan kembali terhadap keadaan sekarang. 

Ini tentu saja sebagai sebuah tujuan pembacaan dan menyambut zaman sekarang di lingkungan wayang kulit Banjar itu sendiri. Karena tanpa demikian tentu saja penonton wayang kulit Banjar akan beralih kepada sesuatu yang lebih baru. 

Pada lain sisi, organisasi Pedalangan seperti Pepadi (Persatuan Pedalangan Indonesia) Kalimantan Selatan, seperti mati suri pasca musyawarah besar kurang lebih satu tahun yang lalu. Alasan klasik seperti anggaran menjadi kendala utama, sampai sekarang tidak kelihatan corong pergerakannya. 

Hemat saya sebagai orang yang hampir 18 tahun hidup dan menjadi bagian dari pertunjukan wayang kulit seharusnya Pepadi punya langkah jelas dalam ruang geraknya ada atau tanpa pemerintah sekalipun. 

Tumbuh kembang Wayang kulit Banjar ke depan salah satunya bergantung dari bagaimana tata kerja Pepadi dalam menjalankan program-programnya. Program yang hidup untuk menjaga dan mengembangkan wayang kulit Banjar sebagai sebuah kesenian yang adiluhung. 

Semua lini harus terlibat aktif agar ekosistem pertunjukan wayang kulit tidak hanya berada pada wilayah hiburan namun kembali menjadi salah satu wadah edukasi masyarakat. Masyarakat disini tentu saja juga mereka para kaum muda dan anak-anak. 

Lalu kapan kita akan duduk bersama membicarakan wayang kulit purwa Banjar untuk masa depan ?

*)Direktur NSA Project Movement

favourite category

...
test section describtion

Whatsapp Button works on Mobile Device only