okeee

okeee

» » Sedikit Opini untuk Menara Pandang Banjarmasin

MENARA pandang bukanlah hal baru. Banyak daerah yang terlebih dulu memilikinya. Contoh paling gampang adalah keberadaan tugu Monas (Monumen Nasional) di Jakarta.

Di sana, pengunjung dibawa ke ketinggian sehingga bisa melihat sebagian besar wajah ibu kota. Bedanya, menara pandang di Banjarmasin, berada di siring Sungai Martapura yang tentunya tidak terlepas dari kekhasan sebagai kota sungai.

Selain itu, sebenarnya keberadaan bangunan khusus untuk  melihat lanskap kota dari ketinggian juga bukan sesuatu yang istimewa. Mengapa? Sudah banyak hotel yang bangunannya menjulang yang tentunya bisa dijadikan sebagai tempat untuk melihat wajah suatu daerah.

Bahkan, tidak sedikit hotel yang kini sengaja menyediakan ruang terbuka –ada pula yang dilengkapi kafe, kolam renang dan restoran– di bagian atas gedung sebagai lokasi untuk menikmati pemandangan baik saat pagi, siang, maupun malam. Untuk bisa mendapatkan fasilitas itu, tentu ada konsekuensi biaya tidak sedikit yang harus ditanggung pengunjung.

Ada keunggulan yang dimiliki menara pandang yang dibangun Pemko Banjarmasin. Paling utama adalah lokasinya yang berada di siring sungai. Harus diakui, aktivitas sungai adalah salah satu kelebihan kota ini. Yang bila dikelola secara baik bisa menjadi nilai plus, penarik minat wisatawan.

Pertanyaannya, apakah wisata sungai di Banjarmasin sudah dikelola secara baik? Sudah mampu menjadi salah satu destinasi wisata? Pertanyaan ini penting dijawab terlebih dulu sebelum berbicara tentang efektivitas menara pandang.

Pasalnya, akan sia-sialah keberadaan bangunan itu, jika pemandangan utama yang disajikan sebatas hamparan sungai yang kerapkali kotor dan hilir mudiknya kelotok. Jika hanya itu yang dijadikan magnet untuk menarik pengunjung, maka menara pandang  hanya efektif dan ramai didatangi di ‘awal-awal’ dan selanjutnya sebatas ‘bangunan tinggi’.

Tentu pemko sudah memikirkan masalah ini. Mereka sudah berupaya ‘memindahkan’ pasar terapung ke kawasan siring. Juga menyediakan kawasan jajan dan tempat yang bisa digunakan warga untuk menggelar acara. Kegiatan yang melibatkan banyak orang pun sering diadakan di kawasan tersebut.

Kita patut memberi apresiasi terhadap upaya-upaya tersebut tetapi yang masih menjadi pertanyaan akankah upaya dan keaktifan itu terus berjalan sehingga menara pandang tidak cepat mati suri?

Pemko harus bisa belajar kepada pengelolaan Monas dan hotel-hotel yang menyediakan ‘menara pandang’. Di Monas, meski pengunjung harus membayar, tetap banyak yang mengunjungi karena bangunan itu adalah ikon daerah, bahkan nasional. Juga ada manfaatnya karena di sana ada semacam museum. Sementara di hotel, pengunjung rela membayar karena kenyamanan suasana yang diperolehnya.

Menjadi ikon dan memberi kenyamanan adalah nilai plus. Itu pula yang harus melekat di menara pandang Banjarmasin jika mengharapkan pengunjung terus datang. Kita bisa memaklumi apabila nantinya pengunjung menara pandang dikenai retribusi untuk biaya pengelolaan dan perawatan. Asalkan biaya itu sebanding dengan kenyamanan dan manfaat yang diperoleh, pengunjung tentu tidak keberatan.

Ada yang perlu digarisbawahi dari pernyataan Wali Kota Banjarmasin, H Muhidin saat meresmikan menara pandang di kawasan siring Jalan Kapten Pierre Tendean. Dia menegaskan sekaligus mengharapkan semua lapisan masyarakat –baik dari dalam maupun luar Banjarmasin– bisa dan terus mengunjungi menara pandang.

Semua, bukan hanya sebagian lapisan masyarakat. Itu pesannya. Jadi jangan sampai ada sesuatu atau kondisi yang membuat mereka berpikir ulang, apalagi enggan datang. (*)

*http://banjarmasin.tribunnews.com/2014/06/18/menara-pandang-plus-plus

About kalsel suara

Situs berita www.beritabanjarmasin.com adalah situs informasi dan hiburan bagi warga Banjarmasin dan sekitarnya. Berusaha menyajikan berita positif dan inspiratif.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
close
Banner iklan disini